BISA dikatakan semua orang ingin tampil cantik atau punya istri, anak, dan kerabat yang cantik. Ya, siapa pun punya imajinasi dan “kepentingan” untuk cantik. Cantik adalah kebutuhan “manusiawi”.Imajinasi tentang kecantikan mengakar di banyak ruang dan suasana. Cantik dibutuhkan untuk membangun atau mendukung pencapaian tujuan tertentu. Memilih pasangan yang cantik adalah wajar. Untuk menjadi gadis sampul, model, presenter, bintang film, hingga Puteri Indonesia, misalnya, unsur kecantikan berpengaruh besar. Cantik adalah kepentingan, sesuatu yang urgen, yang akan memengaruhi banyak kemungkinan.
Dalam simbol kecantikan tersimpan energi fitrah yang akan menjelaskan dirinya sendiri, memberi pengaruh, stimulus, yang akan mengalirkan pemaknaan dan apresiasi beragam. Tafsir tentang kecantikan seperti bagian dari terjemahan konsepsi Roland Barthes tentang perselingkuhan “tanda” dalam kode-kode semiotik. Simbol-simbol kecantikan ibarat tanda yang menghadirkan interpretasi yang kemudian menentukan perlakuan, pilihan, dan beragam kemungkinan.
Tolok Ukur Pembacaan tentang kecantikan dalam konsepsi itu akan sampai ke — apa yang disebut Barthes — mitos. Bagaimana kode simbolik dalam wujud fisik menjadi “tolok ukur” yang diamini publik untuk mengidentifikasi kecantikan? Wujud fisik berupa kulit putih dan hidung mancung lazimnya berlaku secara umum untuk mendefinisikan cantik.
Pemaknaan cantik dalam kode fisik, tanda, dalam beberapa kasus lokal, bahkan menjelma menjadi semacam “referensi” membangun rekayasa budaya dan bukan sekadar mitos. Mari kita cermati bagaimana diksi panyandra (kalimat ilustrasi) dalam bahasa Jawa menggunakan ilustrasi simbolik sebagai penanda untuk menjelaskan kecantikan.
Ada beberapa amsal sederhana, seperti untune miji timun (bergigi seperti biji ketimun: rapi), bangkekane nawon kemit (berpinggangg seperti pinggang lebah: langsing), lambeane mblarak sempal (melenggang bak pelepah kelapa luruh: lentur). Ada pesan kebaikan dalam ilustrasi simbolik kecantikan versi itu. Konseptualisasi tentang cantik diilustrasikan dengan instrumen keanekaragaman hayati, dari biji ketimun hingga pelepah kepala. Ilustrasi kecantikan itu seperti menyampaikan pesan inspiratif agar manusia menjaga keanekaragaman hayati, sebagaimana (lelaki) bertugas mengayomi dan melindungi perempuan.
Begitu inspiratif pesan kebaikan panyandra “kecantikan” dalam imajinasi masyarakat Jawa. Ia bukan sekadar instrumen untuk menikmati keindahan simbolik. Daya kreatif linguistik masyarakat Jawa tak sekadar menyajikan informasi “tekstual”, tetapi telah begitu cantik menyematkan pesan kebaikan. Di tangan orang Jawa, cantik tak hanya “objek” yang dinikmati melalui ragam konseptualisasi indrawi. Panyandra tentang kecantikan bahkan telah menjadi semacam strategi membangun kearifan lingkungan.
Dalam narasi ajaran Islam, istilah cantik bahkan menjadi “iman” yang memiliki porsi cukup besar dalam membentuk laku keberagamaan. Kita telaah bagaimana narasi Alquran menyebutkan istilah huuril ain (mata yang indah), salsabila dan luíluin maknun (mutiara). Ketiganya diksi ilustratif untuk menggambarkan sosok bidadari yang dijanjikan untuk calon para penghuni surga.
Narasi simbolik dalam Alquran menjadikan kode kecantikan sebagai media konseptualisasi, simbol imajiner untuk membangun kesadaran religius. Seakan-akan narasi itu menjelaskan kecantikan potensial digunakan untuk membangun karakter publik. Kecantikan divisualisasikan sedemikian elok dan profan sebagai strategi pembumian ideologi.
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan “kisi-kisi” dalam memilih jodoh. Setidaknya ada empat indikator penting, yakni kecantikan, kekayaan, keturunan, dan agama. Islam bahkan memosisikan kecantikan sebagai “hal yang penting” dalam membingkai rumah tangga.
Kekalahan Cara Pandang Narasi ikhwal kecantikan dalam sederet pernik budaya dan literasi agama menjadi titik awal untuk mengejawantahkan pesan kebaikan kecantikan dalam kehidupan praksis. Kode budaya dan agama menempatkan kecantikan sedemikian apik untuk membangun tata nilai kearifan. Itulah bingkai kecantikan sebagai accelerating factor untuk menumbuhkan spirit kebaikan, kesalehan. Bukan potensi fisik semata-mata untuk mendapat legitimasi dan pencitraan.
Konsepsi semiotik dalam cantik justru akan tereduksi dari makna substansial, jika hanya diterjemahkan dalam sifat jasmani. Cantik tak cukup dieja sebagai sesuatu yang indah dengan ciri fisik tertentu. Pemaknaan fisik dalam cantik justru akan memunculkan mitos salah kaprah.
Ironis jika cantik dimengerti sebagai hidung mancung atau kulit kuning langsat. Orang akan terjerembap dalam pemaknaan dangkal itu, sehingga membuat kode fisik berlomba mengejar indikator fisik tersebut.
Dalam situasi ini, kecantikan tak lagi jadi imajinasi kearifan, tetapi “komoditas” dagang. Orang berebut ruang apresiasi kecantikan fisik untuk mendapat keuntungan material: pekerjaan, popularitas. Sementara dalam kasus lain, mitos cantik digaungkan menjadi isu untuk suksesi kapitalisme. Kita saksikan bagaimana iklan sabun mandi, fesyen hingga peralatan kecantikan begitu halus “membohongi” dan membuat “candu” bagi publik, untuk selanjutnya mewabahkan budaya konsumtivisme akut.
Betapa kita harus mengakui dengan lapang dada, mitos kecantikan dalam benak publik masih terperdaya dan patuh pada logika kapitalisme. Sebuah kultur apresiasi kecantikan yang selama ini mendistorsi mitos cantik dari makna substansial tentang kearifan, religiositas, dan spirit kebaikan
Dalam simbol kecantikan tersimpan energi fitrah yang akan menjelaskan dirinya sendiri, memberi pengaruh, stimulus, yang akan mengalirkan pemaknaan dan apresiasi beragam. Tafsir tentang kecantikan seperti bagian dari terjemahan konsepsi Roland Barthes tentang perselingkuhan “tanda” dalam kode-kode semiotik. Simbol-simbol kecantikan ibarat tanda yang menghadirkan interpretasi yang kemudian menentukan perlakuan, pilihan, dan beragam kemungkinan.
Tolok Ukur Pembacaan tentang kecantikan dalam konsepsi itu akan sampai ke — apa yang disebut Barthes — mitos. Bagaimana kode simbolik dalam wujud fisik menjadi “tolok ukur” yang diamini publik untuk mengidentifikasi kecantikan? Wujud fisik berupa kulit putih dan hidung mancung lazimnya berlaku secara umum untuk mendefinisikan cantik.
Pemaknaan cantik dalam kode fisik, tanda, dalam beberapa kasus lokal, bahkan menjelma menjadi semacam “referensi” membangun rekayasa budaya dan bukan sekadar mitos. Mari kita cermati bagaimana diksi panyandra (kalimat ilustrasi) dalam bahasa Jawa menggunakan ilustrasi simbolik sebagai penanda untuk menjelaskan kecantikan.
Ada beberapa amsal sederhana, seperti untune miji timun (bergigi seperti biji ketimun: rapi), bangkekane nawon kemit (berpinggangg seperti pinggang lebah: langsing), lambeane mblarak sempal (melenggang bak pelepah kelapa luruh: lentur). Ada pesan kebaikan dalam ilustrasi simbolik kecantikan versi itu. Konseptualisasi tentang cantik diilustrasikan dengan instrumen keanekaragaman hayati, dari biji ketimun hingga pelepah kepala. Ilustrasi kecantikan itu seperti menyampaikan pesan inspiratif agar manusia menjaga keanekaragaman hayati, sebagaimana (lelaki) bertugas mengayomi dan melindungi perempuan.
Begitu inspiratif pesan kebaikan panyandra “kecantikan” dalam imajinasi masyarakat Jawa. Ia bukan sekadar instrumen untuk menikmati keindahan simbolik. Daya kreatif linguistik masyarakat Jawa tak sekadar menyajikan informasi “tekstual”, tetapi telah begitu cantik menyematkan pesan kebaikan. Di tangan orang Jawa, cantik tak hanya “objek” yang dinikmati melalui ragam konseptualisasi indrawi. Panyandra tentang kecantikan bahkan telah menjadi semacam strategi membangun kearifan lingkungan.
Dalam narasi ajaran Islam, istilah cantik bahkan menjadi “iman” yang memiliki porsi cukup besar dalam membentuk laku keberagamaan. Kita telaah bagaimana narasi Alquran menyebutkan istilah huuril ain (mata yang indah), salsabila dan luíluin maknun (mutiara). Ketiganya diksi ilustratif untuk menggambarkan sosok bidadari yang dijanjikan untuk calon para penghuni surga.
Narasi simbolik dalam Alquran menjadikan kode kecantikan sebagai media konseptualisasi, simbol imajiner untuk membangun kesadaran religius. Seakan-akan narasi itu menjelaskan kecantikan potensial digunakan untuk membangun karakter publik. Kecantikan divisualisasikan sedemikian elok dan profan sebagai strategi pembumian ideologi.
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan “kisi-kisi” dalam memilih jodoh. Setidaknya ada empat indikator penting, yakni kecantikan, kekayaan, keturunan, dan agama. Islam bahkan memosisikan kecantikan sebagai “hal yang penting” dalam membingkai rumah tangga.
Kekalahan Cara Pandang Narasi ikhwal kecantikan dalam sederet pernik budaya dan literasi agama menjadi titik awal untuk mengejawantahkan pesan kebaikan kecantikan dalam kehidupan praksis. Kode budaya dan agama menempatkan kecantikan sedemikian apik untuk membangun tata nilai kearifan. Itulah bingkai kecantikan sebagai accelerating factor untuk menumbuhkan spirit kebaikan, kesalehan. Bukan potensi fisik semata-mata untuk mendapat legitimasi dan pencitraan.
Konsepsi semiotik dalam cantik justru akan tereduksi dari makna substansial, jika hanya diterjemahkan dalam sifat jasmani. Cantik tak cukup dieja sebagai sesuatu yang indah dengan ciri fisik tertentu. Pemaknaan fisik dalam cantik justru akan memunculkan mitos salah kaprah.
Ironis jika cantik dimengerti sebagai hidung mancung atau kulit kuning langsat. Orang akan terjerembap dalam pemaknaan dangkal itu, sehingga membuat kode fisik berlomba mengejar indikator fisik tersebut.
Dalam situasi ini, kecantikan tak lagi jadi imajinasi kearifan, tetapi “komoditas” dagang. Orang berebut ruang apresiasi kecantikan fisik untuk mendapat keuntungan material: pekerjaan, popularitas. Sementara dalam kasus lain, mitos cantik digaungkan menjadi isu untuk suksesi kapitalisme. Kita saksikan bagaimana iklan sabun mandi, fesyen hingga peralatan kecantikan begitu halus “membohongi” dan membuat “candu” bagi publik, untuk selanjutnya mewabahkan budaya konsumtivisme akut.
Betapa kita harus mengakui dengan lapang dada, mitos kecantikan dalam benak publik masih terperdaya dan patuh pada logika kapitalisme. Sebuah kultur apresiasi kecantikan yang selama ini mendistorsi mitos cantik dari makna substansial tentang kearifan, religiositas, dan spirit kebaikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar