hanya saja, aku bercermin pada diri sendiri..dengan usia ku yang konon mereka bilang sudah layak untuk berumah tangga *hmmm,,tdk berarti tua loh :)*
namun, aku masih belajar untuk mencari kekuranganku, ketidak sempurnaanku, ketidaksiapanku dalam menjalin hubungan ke arah sana (lebih serius tentunya).
aku lebih sering memojokkan dia, mendroktrin dia dengan seribu alasan, membuka kesalahan-kesalahan dia terdahulu, dan menuntut dia untuk menjadi sempurna dimataku, tapi ternyata smua itu salah..aku terlalu egois, terlalu dangkal dalam berfikir tentang kedewasaan,,tidak pernah serius mendengarkan pandangan dia tentang hidup berumah tangga...
mulai sekarang, aku akan belajar membuka pikiran, lebih melapangkan dada untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan, semuanya sudah ada yang mengatur, biarkanlah ini berjalan sesuai kodratnya,
dan BISMILLAH...semoga dibukakan jalan yang terbaik untuk menjadi insan yang lebih baik dimata-Mu ya Robb.
*mari kita cerna artikel dibawah ini,,yang saya copas dari blog tetangga :)
Untuk Yang Belum, Akan, & Telah Menikah
Benarkah menikah didasari oleh kecocokan? Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng.. Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah…(is that simple?……..) itu semua bukan ukuran utk menikah atau mempertahankan pernikahan.
Tapi liat analogi-analogi berikut :
Bilamana sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?
MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?
Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’,
Ada kerelaan mendengar kritik’,
Ada keikhlasan meminta maaf’,
Ada ketulusan melupakan kesalahan,dan keberanian untuk mengemukakan pendapat secara JUJUR.
Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan. MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh,ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil. MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.
Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama…
MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan kita.
Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana kita bisa memahami orang lain…??
Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana kita bisa memperhatikan pasangan hidup…??
MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk bisa saling ‘MENERIMA’ dan ‘MEMAAFKAN’, yg bukan sekedar MENERIMA kritikan atau MEMAAFKAN kesalahan semata akan tetapi MENERIMA dan MEMAAFKAN dlm arti yg luas dan mendalam.
Sumber; Panduan Pernikahan dalam Islam - copas dari blog mba.pitri






